Berubah dalam Perspektif “Positif” itu Pilihan
Oleh: Ahmad Yani

Sewaktu masih duduk dibangku kuliah Strata 1 (S-1), Saya dikenal sebagai petualang yang enggan peduli dengan penampilan. Bergaya urakan, kemana-mana selalu mengandalkan jaket dan celana jeans. Bahkan celana jeans yang digunakan sengaja disobek biar kelihatan preman. Rambut gondrong tak terawat, beberapa koleksi topi kupluk menemani setiap langkah perjalanan mencari tempat-tempat baru untuk dikunjungi. Bukan hanya itu, saya juga menjadikan laut dengan aktivitas memancing sebagai tempat untuk berimajinasi disaat pikiran mulai penat.

Adahal yang kemudian mulai berubah dalam bersikap ketika mulai melanjutkan studi Pasca sarjana progran Magister. Entah karena pendidikan yang semakin tinggi ataukah karena perbedaan kultur budaya ketika saya berada dibelahan daerah Barat.

Kini keadaan mengharuskanku tampil rapi. Berdiri di depan kelas, memberi teladan lewat pengetahuan. Meski begitu, karakterku masih tetap sama. Terkadang suka melawan arus, dan bertindak sesuai kesenangan hati. Masalah orang lain menyukai atau tidak menyukai, tidak pernah kurisaukan. Bagiku tujuan hidup itu untuk berbahagia. Selama bisa memberi kemanfaatan bagi orang lain melalui ilmu pengetahuan.

Menjadi pegiat literasi adalah pilihan pertama yang membuatku bahagia. Dunia literasi mengajarkan saya menemukan gairah hidup. Berbagi motivasi dan inpirasi bagi siapa pun yang ingin memuliakan hidup lewat tulisan. Selain itu, saya juga memiliki hasrat yang kuat dalam bidang seni pertunjukkan. Ya, walau itu semua saya lakukan sekadar memotivasi diri untuk meningkatkan kualitas diri. Karena sebagi tenaga pengajar, tidak hanya sekadar memberikan teori melainkan juga mampu ber-praktik di depan kelas.

Meski boleh jadi ada yang terganggu dengan pergerakanku karena terkadang bersebrangan dengan pola pemikiran yang terkungkung. Bagi saya, selama cara yang dilakukan dapat memberi pemahaman tentang pola pikir logis, diterima dan bermanfaat oleh peserta didik serta dapat diaplikasika ke masyarakat luas, disitulah esensi seorang tenaga pengajar. Berbeda gaya bukan sebuah kehancuran, melainkan sebuah cara menemukan jalan keluar sebuah persoalan.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan sebuah pandangan bahwa “Gunakan Ilmu pengetahuan sebagai indikator penilaian dalam membagun sebuah perspektif. Sehingga anda memiliki cara pandangan yang bermartabat.”

(Sebuah ilustrasi representasi penulis tentang perjalanan menemukan jati diri)😂😂

Dok. Ahmad Yani, lokasi: Bukit batu purba, Kojadoi