Oleh. Bertholomeus Jawa Bhaga,S.Pd.,M.Pd.

Orang kita ini kadang mesti pakai cara yang agak keras. Bagai belajar dari keseharian anak-anak usia 3 tahun sampai 6 tahun kalau mereka sedang rewel rewelnya orang tua pasti menakut nakuti mereka kalau ada om polisi yang lagi cari penjahat dan dengan segera anak yang rewel pasti “takut”lalu mau mengikuti orang tua entah menyuapi makanan,ajak mandi pagi dan masih banyak alasan lainnya. Fenomena itu,sama persis dengan yang kita alami sekarang ini. Mesti ditakut takuti dulu baru bisa berubah. Kita coba hubungkan dengan fenomena medsos beberapa hari lalu. Saya sempat membagikan satu video yang ternyata yang dibuat oleh seorang senior kami di Seminari Mataloko, isi videonya pada intinya adalah mengajak dengan “agak” keras agar masyarakat bisa lebih patuh pada anjuran dan himbauan pemerintah untuk dapat melakukan isolasi ataupun karantina di rumah. Ajakan itu adalah dengan membagian berbagai pengalaman senior-senior yang sedang belajar lanjut di luar negeri juga ada yang menjadi misionaris di beberapa negara terjangkit tentang begitu sadisnya wabah ini bagi manusia, kewalahan beberapa negara menangani wabah ini dan berbagai efek ikutan dari wabah ini. Jujur,saya sepakat dengan cara ini : menakut-nakuti orang agar berubah. Orang kita kalau tidak pakai cara begini maka kepala batu pasti akan jadi batu cadas yang luar biasa. Dihimbau untuk tidak berkumpul banyak orang malah kesanya seperti disuruh, dihimbau untuk berlakukan jam malam malah semakin banyak yang hilir mudik di malam hari dan masih banyak tingkah aneh lainnya.
STIMULUS RESPON DAN PERUBAHAN KARAKTER.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa jika akan sadar maka diawali pula dengan menakut nakuti. Banyak yang membagikan trik- trik psikologi yang bertujuan agar menghindari stres berlebihan dalam menghadapi wabah ini. Salah satu yang dianggap lazim adalah menghindari perbincangan atau tontonan yang berhubungan dengan meluas wabah ini. Ini baik adanya, bahwa manusia ideal adalah seperti ini. Dengan tidak terlalu membahas atau menonton konten yang berhubungan dengan wabah ini agar psikologi seseorang tidak terganggu. Kalau boleh kita katakan ada stimulus positif,ada respon yang positif maka ada penguatan yang positif. Tetapi, kenyataan pada masyarakat kita ini terbalik. Dalam menghadapi pandemi ini, mestinya disiarkan atau diberitakan,didengarkan berita2 yang menakutkan bahwa betapa ganasnya wabah ini sebagai stimulusnya, agar responnya adalah berubahnya karakter orang kita yang keras kepala menjadi manusia yang “responsif, peka” dengan semua himbauan pemerintah. Stimulus juga dibuat atau dikemas sedemikian rupa misalnya dengan menceritakan betapa minimnya peralatan medis di daerah kita utk menghadapi pandemi ini, betapa kelabakan nanti paramedis menghadapi situasi ini dengan minimnya peralatan, betapa susahnya mengirimkan swab ke Jawa jika maskapai enggan menerima utk diterbangkan dan yang paling penting bahwa wabah ini belum ada ahli yang menemukan obat untuk menyembuhkan. Dan, saya pikir mental orang kita memang harus ditakut takuti agar manusia yang berkarakter selama ini didengung dengungkan oleh kita semua benar – benar nyata adanya atau dengan kata lain adanya perubahan yang luar biasa dalam hal pembentukan karakter baik itu sendiri. Mari kita baca,nonton,dengan berita-berita tentang pandemi ini, berilah ruang rasa takut itu dalam dirimu, olah rasa takut itu dengan kesadaran penuh untuk “berubah” dengan taat pada semua himbauan dan anjuran pemerintah. Semoga badai ini cepat berlalu.

Maumere, 31 Maret 2020
Dari yang biasa berpikir aneh-aneh.

BJB.