Oleh. Bertholomeus Jawa Bhaga, S.Pd.,M.Pd

Situasi yang kian tidak menentu dengan belum menurunnya tren wabah Coronavirus, mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan penting guna menyelamatkan situasi pandemi ini salah satunya adalah belajar di (dari) rumah. Konsep belajar ini hemat saya akan timbul 2 kemungkinan situasi. Pertama, belajar di rumah dan belajar dari rumah. Belajar di rumah menggambarkan kondisi dimana pembelajar akan aktif mengeksplorasi dan mengelaborasi kemampuan serta segala macam sumber daya yang ada plus dibantu oleh orang tua. Sedangkan, kedua, belajar dari rumah menggambarkan situasi pebelajar juga aktif dan menggerakan semua kemampuan dan sumber daya salah satunya adalah media misalnya android dan ada kontak secara intens dengan gurunya.

Menarik untuk dibahas kali ini adalah belajar di rumah. Mari kita lihat video dalam link berikut. https://www.facebook.com/100000119739228/posts/4233507766663173/?app=fbl. Dari video ini tentu guru telah memberikan tugas tambahan untuk pebelajar agar dapat belajar dirumah tentang membaca. Dari video ini pula sebenarnya menjadi refleksi mendalam bagi orang tua dimanapun berada bahwa meningkatkan kemampuan kognitif pada anak gampang-gampang sulit.
Melalui kebijakan belajar di rumah, tentu akan menampilkan berbagai macam karakter anak saat belajar. Malas, tidak mendengar, tidak bekerja tuntas, dan hasrat untuk bermain yang lebih tinggi dibanding belajar. Karakter-karakter tersebut mungkin saja tidak pernah diketahui oleh orang tua dan hanya ada saat di sekolah.
Setelah beberapa pekan pemberlakuan belajar di rumah ini, tentu dapat dijadikan oleh orang tua untuk melihat diri lebih dalam tentang proses mendidik anak. Dengan membayangkan bahwa guru tidak hanya mendidik seorang anak, tetapi ada puluhan anak dengan berbagai macam karakter tentu menjadi sebuah tugas berat. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyadari bahwa guru tidak dapat menanggung sepenuhnya tugas dan beban moral pendidikan seorang anak. Harus ada bantuan orang tua untuk membentuk perilaku dan pengetahuan anak.

Pada skala waktu 24 jam, waktu anak di sekolah hanya kurang lebih 6-8 jam saja, selebihnya ada pada lingkungan keluarga di rumah. Melimpahkan segala “persoalan anak” sebagai ketidakbecusan guru bukanlah tindakan yang tepat. Orang tua harus memiliki dan merasa punya tanggungjawab yang sama dalam proses pendidikan anak, dan setiap masalah yang ada harus diselesaikan bersama, bukan justru menyalahkan guru mereka. Semoga dengan pandemi ini,menjadi saat yang tepat untuk kita merefleksi peran kita masing-masing untuk membentuk anak. Saya teringat moto AUSAID seperti ini : untuk mendidik seorang anak, perlu peran serta seisi kampung. Bahwa membentuk seorang anak bukan hnya peran guru tetapi juga orang tua dan lingkungan sekitar. Sekian.

Maumere, 22 April 2020

BJB