Oleh. Bertholomeus Jawa Bhaga,S.Pd.,M.Pd.

Lagi-lagi persoalan Covid telah mendatangkan persoalan ikutan lainnya,selain secara ekonomi,sosial dan kesehatan itu sendiri, juga berpengaruh dalam dunia pendidikan. Seperti dalam tulisan saya sebelumnya bahwa karena Covid, pemerintah terpaksa mengambil berbagai kebijakan penting guna mengantisipasi situasi dan kondisi yang kian tidak menentu.

Dalam dunia pendidikan pada umumnya, dan dunia pendidikan Sikka pada khususnya telah banyak kerugian yg timbul akibat pandemi ini, salah satunya adalah tidak adanya proses belajar mengajar secara langsung (tatap muka) antara guru dan siswa. Langkah antisipasi telah diambil mulai dari pembelajaran daring sampai pada pemberian tugas terstruktur dan tugas mandiri bagi siswa/i dengan sistem : guru memberi tugas, orang tua berperan untuk mengambil tugas agar dikerjakan putra/i mereka lalu setelah rampung tugas tersebut akan diserahkan kembali pada guru untuk dinilai. Namun, seiring berjalannya waktu dan melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu diikuti oleh tekanan dari pihak legislatif entah faktor pertimbangan apa yang melatarbelakanginya,maka pihak Dinas PPO akhinya melaunching pembalajan melalui radio.

Sejak beredar rumor tentang rencana pembelajaran radio beberapa hari yang lalu, sebagai pemerhati pendidikan sekaligus sebagai akademisi merasa tidak terlalu sepakat dengan kebijakan tersebut. Berikut beberapa alasan yang mendasarinya antara lain :

  1. Tidak semua siswa/i memiliki radio di rumahnya masing-masing. Ini menjadi alasan paling penting dan mesti dipertimbangkan dalam memutuskan penggunaan pembelajaran radio.
  2. Tidak semua wilayah di kabupaten Sikka dapat menangkap atau memiliki jaringan pemancar radio yang bagus sehingga siaran pembelajaran radio dapat diikuti dengan baik oleh semua siswa/i di Kabupaten Sikka.
  3. Ketidaksesuaian tema dan waktu pembelajaran antara sekolah yang satu dengan sekolah lain. Misalkan begini : sekolah A sebelum pandemi mungkin sudah sampai pada tema X, sedangkan ada sekolah B misalnya sebelum pandemi sudah sampai pada tema Y. Nah ini mesti dibuat suatu penyeragaman tema. Semua guru mata pelajaran sepakat mulai pada tema atau bab mana yang akan diperdengarkan di radio.
  4. Hal terakhir ini mungkin agak sedikit teoritis yakni soal kemampuan menyimak. Pembelajaran radio,menuntut kemampuan menyimak yang maksimal. Artinya, jika ini menjadi pilihan alternatif maka semua pendengar radio (siswa/i) ini “harus” mempunyai kemampuan menyimak yang baik dan tidak terdistorsi oleh informasi yang tumpang tindih agar semua informasi penting yang disampaikan dapat diterima dengan baik pula karena kita tau : siaran radio (pembelajaran radio) tidak akan pernh diulang-ulang ataupun ada “resiprokal” antara pemberi materi dan pendengar. Misalnya apakah pemberi materi dapat bertanya ” sudah paham belum dengan materi yang diberikan?”.

Mungkin dengan pandemi ini harapan kita agar siswa/i tidak menjadi tertinggal dengan ilmu dan keterampilan yang mesti mereka miliki, tetapi jangan lupa bahwa pada kenyataanya kita sedang dihadapkan pada banyak kendala. Dan hemat saya, sebaiknya kebijakan itu mesti “situasional” dan beri kebebasan pada masing-masing satuan pendidikan untuk memilih dan menentukan model pembelajaran yang cocok dan sesuai dengan karakteristik wilayah,sekolah dan siswa/i mereka. Sehingga kita tidak terkesan mengatasi masalah berbarengan dengan menciptakan masalah baru, tetapi setidaknya menekan jangan sampai ada masalah baru yang timbul dari sebuah kebijakan baru. Sekian

Maumere,25 April 2020

BJB