Oleh Maria E.D. Lering, M.Pd
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19). Selain berisi keputusan pembatalan ujian nasional (UN) Tahun 2020, point penting lainnya adalah para Pendidik dan peserta Didik melaksanakan kegiatan belajar daring/jarak jauh. Point belajar dai rumah menjadi dasar bagi sebagian sekolah untuk melaksanakan pembelajaran secara daring atau online. Di era digital dengan berbagai kemudahan memungkinkan berbagai model dan metode pembelajaran dapat dilakukan. Apalagi dengan situasi bangsa Indonesia yang dihadapkan pada persoalan penyebaran virus yang mematikan yaitu virus corona atau covic 19, menjadikan pembelajaan yang seharusnya dilakukan di ruangan kelas dengan berbagai fasilitas lainnya menjadi tertunda dan beralih ke pembelajaran berbasis computer atau Android. Secara global Konsep Pembelajaran Berbasis Komputer dan Jaringan seringkali diartikan hanya sebagai e-Learning atau Distance Learning. Perkembangan Konsep ELearning ini ditandai dengan munculnya situs-situs yang melayani proses belajar mengajar dengan berbasiskan komputer dan jaringan sejak era 15 tahun yang lalu di seluruh pelosok Internet dari yang gratis maupun yang komersial.
Dunia pendidikan Kanada misalnya bahkan telah mulai mengaplikasikan system ini pada dunia pendidikannya, demikian juga di Amerika muncul komunitas-komunitas situs e-Learning yang bersifat terbuka untuk diakses siapa saja, sedangkan di dalam negeri pembelajaran menggunakan konsep ini diaplikasikan di Perguruan Tinggi, UGM misalnya sejak 1998 telah mulai merintis suatu bentuk konsep pembelajaran yang mereka sebut sebagai
Student Internet Center, yang memungkinkan mahasiswa bisa secara aktif mendalami pemahamannya terhadap materi perkuliahan.
Pembelajaran daring/jarak jauh pun telah menjadi pilihan beberapa sekolah Menengah Atas (SMA). Pembelajaran daring menjadi pilihan dengan alasan agar KBM menjadi lebih efektif, dan memudahkan Pendidik untuk mengontrol kegiatan belajar para peserta didik. Salah satu aplikasi yang menjadi pilihan pembelajaran daring adalah WA. Namun apakah pelaksanaan KBM Online via WA efektif ? Sebelum menjawab pertanyaan efektif dan tidak tidaknya pelaksaan KBM online melalui WA, perlu diketahui apa itu aplikasi WA beserta fitur yg ditawarkan. WA atau WhatsAp adalah aplikasi pesan instan untuk smartphone, jika dilihat dari fungsinya WhatsAp hampir sama dengan aplikasi SMS yang biasa digunakan di ponsel lama. Tetapi WhatAp tidak menggunakan pulsa, melainkan data internet. Jadi, di aplikasi ini tidak perlu dikhawatirkan perihal soal panjang pendeknya karakter. Tidak ada batasan, selama data internet memadai. WhatsAp mempunyai beberapa fitur (1) Mengirim pesan teks, (2) Mengirim foto dari galeri ataupun dari kamera, (3) Mengirim video, (4) Mengirimkan berkas-berkas kantor atau yang lainnya, (5) Menelpon melalui suara, termasuk mengirim pesan suara yang dapat didengarkan oleh penerima setiap saat, (6) Berbagai lokasi memanfaatkan GPS, (7) Mengirimkan kartu kontak, (8) WhatsApp juga mendukung beberapa emoji. Di WhatsApp, pengguna juga dapat mengatur panel profilnya sendiri, terdiri dari nama, foto, status serta beberapa alat pengaturan privasi untuk melindungi profil dan juga alat bantuan untuk membackup pesan, mengubah nomor akun dan melakukan pembayaran. Melihat berbagai fitur menarik yg ditawarkan oleh WA tentunya KBM Online akan terlihat efektif. Para Pendidik dan peserta didik dapat menggunakan berbagai fitur untuk menunjang pembelajaran. Namun belum pasti efektif. Mengapa?
. Kendala yang pertama adalah pengadaan kuota internet. Pengadaan Kuota internet merupakan persoalan yang pelik apalagi di tengah wabah Corona yang mengharuskan bekerja dari rumah. Bagi para Pendidik dan peserta didik yang orang tuanya merupakan ASN membeli kuota internet agar anaknya dapat belajar dari rumah dengan menggunakan aplikasi WA bukanlah hal yg sulit dilakukan, toh, gaji setiap bulan yg diterima sangat mampu disisihkan untuk membeli kuota internet, bahkan memasang jaringan wifi di rumah guna memudahkan belajar dari rumah bagi anaknya. Namun, bagimanakah dengan peserta didik yang orang tuanya seorang buruh, nelayan, petani dan lainnya, yang anaknya pun harus belajar dari dari rumah ? Bagi para peserta didik yang orang tuanya buruh, nelayan dsb, maka belajar dari rumah dengan menggunakan aplikasi WA yang dirasa lebih murah dan mudah dengan berbagai fitur yang ditawarkan bukan sesuatu yg menyenangkan. Bahkan, menjadi suatu persoalan baru bagi mereka. Mengapa? Ketika diberlakukan bukan saja belajar dari rumah namun bekerja juga dari rumah, maka peserta didik yg orang tuanya adalah pekerja lepas akan sangat kesulitan mengadakan pulsa bagi anaknya. Boro – boro membeli pulsa, membeli makan saja mungkin tidak akan sanggup. Kendala berikutnya adalah ketiadaan HP Android. Melaksanakan KBM melalui WA tentunya membutuhkan HP yang mampu menampung berbagai aplikasi alah satunya adalah aplikasi WA. Aplikasi ini Wajib ada selain aplikasi yg lain demi menunjang pelaksanaan KBM Online.Tidak semua peserta didik mampu mengadakan HP pun tidak semua peserta didik memiliki HP. Kendala selanjutnya adalah jaringan Wifi yang kurang baik. Pemberlakukan belajar dari murah menjadikan banyak peserta didik memilih kembali ke kampung halaman. Ini menjadi pilihan mereka agar gampang meminta uang untuk pengadaan kuota pun untuk
meminimalisir pengeluaran untuk membeli bahan makanan. Bagi mereka dengan pulang kampung apalagi di tengah wabah ini, mereka akan lebih merasa aman. Namun, sebaliknya pulang kampung membuat KBM Online menjadi kurang efektif karena banyak ula daerah daerah yg belum mendapatkan jaringan Wifi. Kendala terakhir adalah HP malah menjadi rusak karena tidak mampu menerima pesan masuk yg banyak. Peserta didik dengan berragam tingkat ekonomi dalam pengadaan HP Andorid pun bervariasi. Ada yg mampu membeli HP Android yg mampu menampung ribuan pesan masuk pun belasan aplikasi, ada pula yang membeli HP Androdi yg fiturnya tidak banyak asal bisa digunakan. Dari semua kendala yg telah dijabarkan maka tentunya kebijakan pembelajaran dari rumah dengan menggunakan aplikasi WA menjadi kurang efektif. Seminggu KBM Online pelaksanaanaanya akan lancar- lancar saja bagi yang memiliki HP Andorid namun, jika sudah mulai masuk ke minggu kedua, ketiga dan seterusnya maka KBM Online walupun dengan aplikasi yg dirasa murah sekalipun belajar dari rumah malah akan menimbulkan banyak masalah. Pendidik bisa saja proaktif namun bagaimana dengan peserta didiknya yang tentunya dengan berbagai persoalan yang muncul? Maka dari itu, kebijakan yang diambil oleh para pemangku kepentingan untuk memilih KBM secara Online pun haruslah memikirkan berbagai aspek. Jika dimungkinkan pelaksanaan secara Offline dengan cara pemberian tugas dsb. yang dalam pengerjaannya diawasi oleh orang tua akan lebih baik bahkan akan membantu peserta didik secara umum dan terkhusus membantu peserta didik yg berasal dari keluarga kurang mampu.
Pustaka:
https://dailysocial.id/post/apa-itu-whatsapp
https://intens.news/menakar-konsep-merdeka-belajar/ Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19)